JAKARTA,– Peluncuran delapan buku karya Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Republik Indonesia, Prof. Yusril Ihza Mahendra., menjadi momentum penting tidak hanya bagi dunia hukum dan ketatanegaraan.
Tetapi juga bagi kalangan Akademisi muda. Salah satunya adalah Muhammad Akbar, M.Pd., Dosen muda Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Sunan Giri Bima, yang dipercaya menjadi bagian dari TIM editor buku Prof. Yusril Ihza Mahendra.
Acara peluncuran buku yang berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, Sabtu (7/2/2026), mengusung tema Setengah Abad Dedikasi untuk Bangsa. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pejabat negara, akademisi, serta kalangan intelektual, dan menjadi penanda penting perjalanan pemikiran Prof. Yusril dalam dunia hukum, demokrasi, dan konstitusi Indonesia.
Salah satu buku utama yang dieditori Muhammad Akbar berjudul The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega. Buku setebal lebih dari 1.000 halaman tersebut memuat rekam jejak pemikiran, pengalaman politik, serta kontribusi Prof. Yusril Ihza Mahendra dalam memperjuangkan nilai-nilai negara hukum dan konstitusionalisme di Indonesia.
Dalam TIM editorial, Muhammad Akbar berperan memastikan kualitas akademik, ketepatan argumentasi, serta kesinambungan narasi buku.
Keterlibatannya sebagai dosen muda dari perguruan tinggi di daerah menunjukkan terbukanya ruang kontribusi akademisi lintas wilayah dalam produksi karya intelektual nasional.
Selain mengajar di STIT Sunan Giri Bima, Muhammad Akbar juga menjabat sebagai Sekretaris Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M). Ia dikenal aktif dalam kegiatan riset dan kepenulisan, serta telah menghasilkan sejumlah karya buku, baik fiksi maupun nonfiksi, secara individu maupun kolaboratif.
Pengalaman akademik internasional juga mewarnai perjalanan intelektualnya. Pada 2022, Muhammad Akbar tercatat sebagai pembicara dalam program Student Mobility di tiga negara ASEAN, yakni Malaysia, Thailand, dan Singapura, yang memperkaya perspektif keilmuannya dalam konteks global.
Keterlibatan sebagai tim editor buku Prof. Yusril Ihza Mahendra menjadi capaian sekaligus tanggung jawab intelektual bagi Muhammad Akbar. Ia menilai proses editorial ini sebagai ruang belajar yang berharga dalam merawat gagasan besar seorang tokoh bangsa agar tetap relevan dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Peluncuran delapan buku Prof. Yusril Ihza Mahendra tidak hanya menandai perjalanan panjang dedikasi intelektual seorang guru besar hukum tata negara, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi lintas generasi dalam menjaga tradisi keilmuan dan pengabdian bagi bangsa dan negara.Akhirnya (TIM)

Komentar