![]() |
Ket : Poce Saat Kegiatan Berlangsung. Foto Ist., |
Wera, Fajar Media.Com,- BPJS Kesehatan Cabang Bima menggelar sosialisasi kepada pegawai Puskesmas Wera, Kamis (17/7), untuk meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan tentang perbedaan antara BPJS Kesehatan, JKN, dan KIS, serta prosedur pemberian rujukan kepada peserta JKN.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Bima, I Gusti Ngurah Arie Mayanugraha, menjelaskan secara rinci struktur dan fungsi BPJS Kesehatan serta membedakan istilah yang selama ini sering tertukar. Sosialisasi ini diharapkan dapat menguatkan kompetensi petugas puskesmas dalam memberikan pelayanan yang tepat kepada peserta, memperkuat implementasi JKN yang lebih efisien dan akurat.
“BPJS Kesehatan adalah lembaga atau badan hukum publik yang menyelenggarakan program jaminan sosial di bidang kesehatan. JKN merupakan program jaminan kesehatan nasional yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan. Sementara Kartu Indonesia Sehat (KIS) adalah kartu identitas kepesertaan JKN,” jelas Arie.
Arie juga mengungkapkan bahwa dalam kunjungan ke berbagai Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP), termasuk Puskesmas Wera, pihaknya masih sering menemukan tenaga medis yang belum memahami prosedur pemberian rujukan secara benar. Padahal, rujukan merupakan bagian penting dari sistem pelayanan berjenjang dalam Program JKN.
“Masih ada kesalahpahaman bahwa setiap peserta yang datang minta rujukan harus langsung diberi, padahal tidak seperti itu. Pemberian rujukan harus berdasarkan indikasi medis, bukan permintaan peserta semata. Ini penting untuk dijelaskan, agar tidak menimbulkan keluhan atau bahkan potensi pelanggaran administrasi,” tegasnya.
Untuk itu, ia berharap seluruh petugas Puskesmas Wera dapat benar-benar memahami dan menerapkan apa yang telah disampaikan berdasarkan regulasi. Sebagai garda terdepan dalam memberikan pelayanan, Puskesmas juga menjadi ujung tombak dalam menyampaikan informasi yang akurat dan memberikan pelayanan yang sesuai aturan kepada peserta JKN.
“Melalui sosialisasi ini, kami ingin menekankan pentingnya pemahaman terhadap sistem rujukan online, validasi data peserta melalui NIK yang sudah terintegrasi, serta mendorong penggunaan aplikasi Mobile JKN agar peserta semakin mudah mengakses informasi dan layanan,” ujar Arie.
Kepala Puskesmas Wera, Evy Rosdiyanti, yang menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting mengingat adanya kesenjangan informasi di kalangan tenaga kesehatan terkait penyelenggaraan Program JKN.
“Saya melihat sendiri bahwa masih banyak di antara kami yang belum bisa membedakan apa itu BPJS, apa itu JKN, dan apa itu KIS. Bahkan dalam praktik sehari-hari, ada kebingungan dalam melayani peserta yang datang meminta rujukan. Ini tentu perlu kita benahi bersama,” ujar Evy.
Dengan begitu, Evy menyatakan komitmennya untuk memperkuat koordinasi internal agar seluruh pegawai memiliki pemahaman yang sama terkait Program JKN dan pelayanan yang sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.
“Kami berkomitmen untuk meningkatkan pelayanan, dan itu harus dimulai dari pemahaman yang benar. Informasi yang kami peroleh hari ini akan segera kami sampaikan kepada seluruh tim,” jelas Evy.
Beberapa peserta sosialisasi pun mengakui bahwa dalam praktik di lapangan, mereka kerap berada dalam posisi dilematis saat menghadapi pasien yang menuntut rujukan, meski secara medis belum diperlukan.
“Kami sering kali ditekan oleh pasien agar diberi rujukan ke rumah sakit, padahal kondisinya masih bisa ditangani di puskesmas. Karena tidak ingin terjadi konflik, kadang kami terpaksa memberikan rujukan. Tapi hari ini kami jadi lebih paham bahwa itu bisa menyalahi aturan,”.ungkap Nur, perawat di Puskesmas Wera. (Tim)